News

Crouching Emotion Hidden Mood

Selamat pagi Guys..

 

Guys.. Anda tentunya sudah pernah nonton film Laskar Pelangi bukan? Apakah Anda masih ingat percakapan kepala sekolah dan peniliknya yang mendiskusikan apakah SD Muhammadiyah di Belitung itu akan ditutup atau diteruskan? Naah di dalam dialog bersejarah itu diputuskan bahwa SD tersebut layak untuk diteruskan semata karena satu alasan, yaitu karena inilah satu-satunya SD yang mengajarkan budi pekerti sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri dan bukan dimasukkan sebagai salah satu kurikulum. Lha apa bedanya? Jawabannya sederhana saja guys; Karena ini menyangkut pendidikan emosi. Hmm… Tahukah Anda, bahwa itu juga sebabnya pendidikan moral Pancasila, penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), bahkan termasuk pendidikan agama yang diajarkan sejak SD sampai universitas tidak berhasil meningkatkan nilai moral bangsa secara signifikan.. Mengapa? Yaa itu tadi… karena ini menyangkut pendidikan emosi. Hmm… Mari kita bahas.

 

Sekitar tahun 1500 pak Copernicus telah membuktikan dengan perhitungan matematikanya bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, malahan sebaliknya bumi lah yang mengelilingi matahari. Penemuan ini diperkuat oleh om Galileo yang membuktikannya secara lebih sempurna dengan bantuan teleskop. Padahal sebelumnya selama ribuan tahun semua orang berpendapat bahwa matahari lah yang mengelilingi bumi. Pada periode itu kaum gerejawan adalah kaum yang menguasai masyarakat Eropa. Mereka lah yang selama ini berpendapat bahwa Ilmu adalah dari Tuhan. Karena penemuan Copernicus dan Galileo bertentangan dengan yang mereka ajarkan selama ini, maka mereka menjadi tidak senang dengan penemuan tersebut dan akhirnya menghukum Copernicus serta Galileo.

 

Pada jaman itu tidak ada pemisahan antara ilmu sains dan ilmu agama. Pemuka gereja bertindak juga sebagai ahli sains. Oleh karena itu Copernicus dan Galileo dianggap sebagai pengikut aliran sesat karena tidak sesuai dengan ilmu agama. Walaupun tokoh sains yang pada saat itu tidak sejalan dengan pendapat gereja dihukum bahkan dibunuh, tetapi sejak saat itu juga lah masyarakat Eropa mulai mempertanyakan arti kebenaran yang sesungguhnya, mana yang benar, pemuka gereja atau tokoh sains? Mereka mulai berfikir. Cogito ergo sum, saya berfikir karena itu saya ada (Rene Descartes, 1640). Inilah awal kebangkitan bangsa Eropa. Inilah awal renaisance mereka, yaitu mengungkapkan apa yang benar. Inilah awal pemisahan ilmu agama (emosi/moral) dengan ilmu sains (logika) di Eropa. Inilah titik disetujuinya pendapat bahwa emosi/moral/tata nilai berbeda dengan sains.

 

Sejak saat itu disepakati bahwa ilmu moral dan ilmu sains tidak lagi dianggap sebagai suatu dogma yang diajarkan oleh guru kepada muridnya. Dengan demikian, guru tidak lagi dianggap selalu lebih pandai dari muridnya, guru tidak lagi dianggap selalu lebih baik dari muridnya, semuanya tergantung dari kemampuan memberikan bukti dan menunjukkan adanya kebenaran lain (yang baru).

 

Moral dan Sains

 

Ilmu kedokteran dan ilmu saraf (sebagai bagian dari ilmu sains) saat ini sudah sangat maju dibandingkan dengan pada jamannya Copernicus. Sains tentang anatomi dan syaraf manusia mengatakan bahwa otak manusia terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu reptilian, cortex, dan limbic system. Ketiga bagian besar itu mempunyai fungsinya masing-masing, yang berbeda. Bagian yang disebut reptilian adalah bagian otak yang ada pada setiap mahluk hidup, jadi binatang pun mempunyai bagian yang disebut reptilian ini. Fungsi reptilian ini murni hanya untuk survival. Misalnya, bernafas, mata berkedip, membuat jantung berdetak, makan ketika lapar, termasuk juga berlari kencang ketika ada suatu hal yang membuat takut. Anda pun tentunya pernah mengalami hal yang menurut Anda tidak mungkin Anda lakukan, tapi toh Anda bisa melakukannya. Naah reptilian ini lah yang menggerakkan Anda.

 

Daniel Goleman dalam buku Working with Emotional Intelligence (1999) menjelaskan bahwa cortex adalah bagian dari otak yang memproses logika dan tentu saja sangat rasional, sementara limbic system adalah bagian ketiga otak manusia yang memproses emosi dan tidak ada hubungannya dengan rasional, oleh karena itu bisa saja tidak rasional. Jadi cortex adalah untuk urusan logika atau sains, sedangkan limbic system adalah untuk urusan emosi.

 

Guys, ada hal yang menarik dari cortex dan limbic system ini. Setelah diteliti lebih lanjut, diketahuilah bahwa cortex hanya bisa belajar melalui perintah-perintah dan kalimat logis, sementara limbic system hanya bisa belajar melalui proses mengalami atau penyerapan atas getaran/gelombang dari fenomena yang dialami. Oleh karena itu jika Anda hendak mengajarkan ilmu akuntansi atau ilmu fisika kepada orang lain, maka pelatihan tatap muka beberapa jam akan cukup membuat materi yang disampaikan bisa diterima oleh cortex mereka.

 

Sebaliknya jika ada seseorang yang sedang menangis, lalu Anda tenangkan dengan cara memerintahkan untuk diam atau disugesti dengan kalimat logis, maka orang yang menangis tersebut tidak langsung segera diam. Demikian juga jika ada orang yang sedang marah, tidak segera bisa langsung diredakan kemarahannya seketika. Kenapa? Karena limbic system mereka perlu proses untuk menyerap fenomena lain yang dialaminya. Jadi Limbic system hanya dapat belajar melalui penyerapan getaran gelombang lingkungan sekelilingnya, gelombang yang tidak kentara.

 

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa dua wanita yang ditempatkan dalam satu kamar yang sama, maka lambat laun tanggal dan periode menstruasi mereka berubah dan menjadi sama. Anehnya hal ini terjadi hanya ketika kedua wanita itu saling menyukai atau merasa cocok. Sebaliknya hal ini tidak terjadi pada mereka yang tidak saling merasa cocok dengan teman sekamarnya, sehingga walaupun ditempatkan dalam kamar yang sama dan dalam waktu yang lebih lama tanggal dan periode menstruasi mereka tetap tidak berubah.

 

Guys, mari kita membicarakan sedikit tentang Pancasila, yang berisi nilai-nilai luhur itu. Apakah Anda masih ingat jaman dulu ketika kita semua diwajibkan untuk mengikuti penataran P4 tentang butir-butir nilai Pancasila? Menurut saya program itu sama sekali tidak berhasil, terbukti banyak nilai-nilai luhur Pancasila yang tidak diaplikasikan. Kenapa tidak berhasil guys? Betul sekali, karena pendekatan yang digunakan tidak tepat. Pendekatan penataran hanya mampu diserap oleh cortex, sebaliknya limbic system sama sekali tidak bisa menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila melalui penataran. Mereka yang lulus penataran P4 mungkin pandai dalam melogikakan nilai Pancasila, namun belum tentu pandai dalam mengamalkannya.

 

Lalu, bagaimana pula dengan sistem pendidikan di negara kita ini? Bagaimana caranya kurikulum sisdiknas menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak didik di tingkat pendidikan dasar, menengah, atau pendidikan tinggi? Beberapa universitas terkemuka memberikan mata kuliah kapita selekta pengembangan kepribadian, atau kapita selekta perilaku dan etika. Tujuan lembaga pendidikan memberikan materi tersebut baik, sayangnya semua memberikan pelajaran nilai-nilai tersebut sebagai teori dan bukan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan itu sendiri.

 

Apakah menurut Anda cara ini akan berhasil membuat peserta didik mengamalkan nilai-nilai luhur itu? Apakah mereka akan menjadi manusia baru yang beretika ketika lulus? Yang berkepribadian baik? Tidak akan pernah! Selama pendekatan kurikulum-nya adalah tatap muka satu arah, kurikulum seperti ini tidak akan pernah berhasil menanamkan nilai-nilai kehidupan seperti misalnya kejujuran, keberanian, kesetiaan, kepedulian, disiplin, dan rasa saling percaya. Apakah Kementerian Pendidikan Nasional kita mengerti bahwa limbic system tidak dapat menerima dan tidak bisa menyerap hal ini dengan cara seperti itu? Saya tidak berkomentar, bagaimana menurut Anda?.

 

Bandingkanlah dengan sistem pendidikan dari ”film sejarah” Laskar Pelangi di atas. Dalam hal menanamkan nilai-nilai kehidupan, Anda setuju cara yang mana, apakah caranya Laskar Pelangi atau caranya universitas terkemuka? Apa alasan Anda? Guys, pendapat Anda dan pendapat saya boleh saja berbeda, dan saya berpendapat bahwa nilai-nilai hidup tidak dapat diajarkan sebagai kurikulum. Pendidikan etika dan nilai-nilai Pancasila, serta nilai-nilai agama hanya dapat diberikan melalui penyerapan oleh limbic system manusia. Limbic system manusia hanya bisa menyerap fenomena yang terjadi di lingkungan sekelilingnya.

 

Lalu bagaimana mengatasi hal ini? Bagaimana caranya kita bisa keluar dari situasi ini? Caranya sangat mudah guys. Kalau selama ini pendidikan di Indonesia hanya mengutamakan sekolah untuk cortex (logika), maka perbanyaklah sekolah untuk limbic system (emosi). Hanya itu. Bagaimana detailnya? Berikan contohnya, dan ciptakan iklim yang mendukung tumbuh suburnya nilai-nilai yang hendak dicapai. Selanjutnya limbic system dengan sendirinya akan menyerap getaran fenomenanya. That’s it.

 

Emosi Negatif, Emosi Positif, dan Tanpa Emosi

 

Beberapa orang berpendapat bahwa terdapat emosi yang positif, emosi yang negatif, dan emosi nol/netral atau tanpa emosi. Misalnya jika saya menyebutkan emosi ketakutan, kesedihan, kemarahan, ketamakan; apa yang terfikirkan oleh Anda? Apakah sebuah fenomena negatif atau fenomena positif atau fenomena netral? Bagaimana jika saya menyebutkan kata berani, semangat, gembira, dan senang; apakah Anda memikirkan fenomena emosi positif? Itulah yang selalu dipikirkan oleh cortex Anda yang selalu berfikir logis dan berdasarkan perintah.

 

Misalkan saya membuat grafik dengan sumbu X (mendatar) sebagai garis waktu dan sumbu Y (vertical) sebagai garis emosi. Jika gembira itu adalah emosi yang positif, maka titik gembira berada di sumbu X bagian atas, sedangkan sedih yang merupakan emosi negatif berada di sumbu X bagian bawah. Jika keberanian adalah emosi yang positif, maka titik keberanian berada di bagian atas, sedangkan titik ketakutan sebagai emosi negatif berada di bagian bawah. Terakhir, jika semangat dan cinta adalah emosi positif (area atas), maka putus asa dan benci adalah emosi negatif (area bawah). Oleh karena titik di dua kutub itu adalah berlawanan, maka semua yang berasal dari titik positif yang hendak menuju titik negative, dan sebaliknya, selalu melalui titik netral. Semua titik yang berasal dari area negatif (putus asa dan benci) harus lewat titik nol dulu, baru bisa masuk menuju area positif (semangat dan cinta). Dan seterusnya. Masuk akal kan? Naah itulah pendapat cortex Anda.

 

Beberapa orang tertentu bahkan berfikir bahwa jika emosi (yang dianggap) positif banyak menghasilkan manfaat, sedangkan emosi (yang dianggap) negatif banyak menimbulkan masalah, maka cortex mereka berpendapat, kalau memang demikian sebaiknya hapuskan saja emosi (yang dianggap) negatif itu. Oleh karena itu timbullah saran dari banyak ortu bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Bahwa menangis itu cengeng dan tidak baik bagi laki-laki. Bahwa laki-laki tidak boleh takut, karena takut adalah emosi negatif. Apakah cortex Anda setuju dengan pendapat ini?.

 

Jika ortu Anda pernah memberikan nasehat dan saran seperti di atas kepada Anda dan Anda menyetujui melakukannya, maka ketahuilah bahwa sebenarnya Anda telah menumpulkan sensor dan bahkan mungkin membunuh limbic system Anda. Padahal guys, jika emosi kesedihan dan ketakutan Anda ini dimatikan, maka emosi kesenangan, emosi keberanian, dan emosi-emosi milik Anda lainnya pun ikut mati. Karena sesungguhnya yang Anda bunuh itu adalah sensor limbic system Anda, dan bukan emosi sedih atau emosi takutnya.

 

Hal itu pula yang terjadi di kebanyakan kota besar. Di kota-kota besar, banyak sekali orang yang sepertinya tidak punya perasaan, mati rasa, feeling numb, dan tidak peka, tidak peduli. Kenapa? Karena sensor perasa di limbic system mereka sudah dibunuh oleh cortex mereka sendiri.

 

Satu lagi yang perlu diluruskan adalah bahwa emosi itu tidak relevan untuk dibuatkan grafiknya. Semua emosi sifatnya adalah netral sehingga tidak ada emosi yang bersifat negatif maupun emosi yang bersifat positif. Semua emosi yang timbul di diri Anda adalah hasil dari seberapa sensitifnya sensor di limbic system Anda atas kejadian yang terjadi sebelumnya di lingkungan Anda. Naah guys, sekarang Anda sudah mempunyai pilihan apakah hendak menumpulkan sensor limbic system Anda atau Anda hendak membuat sensor Anda menjadi lebih sensitif. Keputusannya ada di Anda.

 

Emotion dan Mood

 

Menurut Gale Dictionary of Psychoanalysis kata emotions diambil dari bahasa Latin emovere, yaitu “to set in motion”. Jadi emotion atau emosi dapat diartikan bahwa adanya keadaan (state) ini adalah didahului oleh kejadian tertentu yang kemudian diasumsikan mempunyai arti tertentu yang mengakibatkan adanya pergerakan mental.

 

Jika sejak tadi kita sudah bicara cukup panjang tentang emosi, sekarang mari kita bahas hal baru yang berkaitan dengan emosi juga, yaitu mood. Apa bedanya emosi dengan mood?.

 

Begini guys, dua-duanya adalah sama, dua-duanya adalah suatu keadaan mental tertentu (certain state), sedangkan bedanya adalah pada pemicunya. Kalau emosi itu hanya ada ketika terjadi pemicunya yaitu kejadian tertentu (event), maka mood (certain state) adalah keadaan yang selalu ada walaupun tidak ada pemicunya.

 

Misalnya, kejadian kemacetan di Jakarta. Kemacetan ini mungkin bisa membuat Anda marah-marah nggak jelas kepada Gubernur DKI, atau marah kepada orang yang parkir sembarangan dan membuat kemacetan semakin parah, namun ketika keadaan jalan tersebut lancar dan tidak macet, maka Anda tidak marah lagi bukan? Nah keadaan mental tertentu yang dipicu oleh kejadian tertentu itulah yang disebut sebagai emosi.

 

Di lain waktu, pernahkah Anda mengalami kemacetan yang sama, tetapi ternyata Anda tidak marah-marah, malahan mungkin Anda tersenyum lucu ketika ada pengemudi lain marah dan kesal kepada keadaan lalu lintas, dan bahkan mungkin juga Anda, pada kemacetan itu malah selalu memberi jalan kepada orang lain. Pertanyaannya adalah kenapa ini terjadi? Mengapa pada kondisi yang sama, yaitu kemacetan, perilaku atau sikap Anda tidak sama? Iya betuuul, karena Anda dipengaruhi oleh mood Anda saat itu. Kejadian yang sama telah terjadi, tetapi Anda menyikapinya dengan cara berbeda, tergantung mood Anda.

 

Seperti sudah kita bicarakan sebelumnya tentang istilah kesedihan yang dinilai sebagai emosi yang bad dan kegembiraan sebagai suatu emosi yang good, maka pertanyaan selanjutnya, apakah bad mood itu jelek? Dan apakah good mood itu baik? Waah saya tidak bisa menjawabnya secara langsung. Sebaliknya saya bertanya kepada Anda. Di manakah tanaman bisa tumbuh dengan sempurna? Di tanah tandus atau di tanah subur? Biasanya tanaman hanya bisa tumbuh dengan baik di tanah yang subur. Jadi tanah yang suburlah yang memungkinkan banyak sekali jenis tanaman untuk bertumbuh dengan lebih baik daripada di tanah tandus. Setuju? Pertanyaan berikutnya, apakah di tanah tandus tidak ada tanaman yang bisa tumbuh baik? Ada, tetapi terbatas hanya pada tanaman tertentu saja, seperti kaktus atau tanaman gurun lain, termasuk buah semangka yang ternyata tumbuh lebih sempurna jika ditanam di tanah/media yang tidak menahan air.

 

Analogi tanaman dan medianya itu adalah sama seperti Anda dan mood Anda. Anda adalah tanamannya dan media adalah mood Anda. Jadi, seperti tanaman yang selalu hidup dalam media, maka Anda pun juga selalu hidup di dalam mood, dan Anda tidak bisa menolaknya, karena Anda selalu hidup di dalamnya.

 

Bisakah Anda dan saya keluar dari bad mood (tanah tandus) dan masuk ke good mood (tanah subur)? Naah inilah good newsnya, jawabannya: YA, BISA. Anda dan saya bisa keluar dari bad mood dan masuk dalam good mood ini. Bagaimana caranya? Ciptakanlah suasana good di hidup Anda. Bagaimana cara menciptakan suasana good? Salah satunya dengan mendengarkan musik yang menggugah semangat Anda sepanjang hari, sejak dari bangun tidur hingga menuju tidur. Stop membaca koran dan stop nonton TV jika isinya adalah ”bad news is a good news”. Lakukanlah kegiatan mendengarkan musik ini secara terus menerus. Kenapa dianjurkan demikian? Karena penelitian membuktikan bahwa emosi yang sama dan terjadi terus menerus bisa berubah menjadi mood. Oleh karena itu Anda dan saya bisa mengubah bad mood ini dan membuatnya menjadi good mood sesuai dengan keinginan sendiri. Mudah kan?!

 

Jika Anda selalu hidup dalam mood, apakah kantor Anda juga mempunyai mood? Iya, kantor pun ternyata mempunyai mood. Bisa jadi mood kantor Anda adalah mood kemarahan, atau mood kreatif, atau mood santai, atau mood kejujuran. Menurut Anda, apa mood yang diciptakan oleh kantor Anda? Hanya Anda yang bisa menjawab ini. Apakah mood kantor Anda mendukung Anda untuk bertumbuh? Bila jawabannya tidak, maka segeralah berhenti bekerja pada kantor Anda yang sekarang (apabila menurut Anda, kantor Anda bukanlah ”tanah yang subur untuk Anda”). Pindahlah atau bangunlah kantor Anda sendiri yang bisa menjadi tanah subur bagi Anda dan karyawan Anda. Hanya dengan cara ini Anda akan bertumbuh dengan baik di dalamnya. By the way guys, ada satu cara lagi untuk mengubah emosi menjadi mood adalah dengan cara mengalami emosi yang sangat besar (bisa hate atau love) yang sangat membekas (yang besar pengaruhnya). Emosi yang besar ini bisa berubah menjadi mood Anda. Bagaimana mendapatkan emosi yang sangat besar? Silakan baca artikel tentang “Hidup Mencari Makna” di majalah ini, edisi sebelumnya.

 

Guys, jika Anda ternyata bisa membentuk mood Anda di kantor Anda, maka mood apakah yang Anda telah ciptakan di rumah Anda? Jika ternyata Anda bisa membentuk mood Anda sendiri maka bukankah sekarang menjadi masuk akal bagi Anda jika ada inspirator bertanya kepada Anda ”Siapa Anda 5 tahun dari sekarang?” Kenapa dia bertanya demikian? Betul guys, inspirator itu ingin mengubah emosi cinta Anda kepada cita-cita Anda berubah menjadi good mood Anda dalam waktu panjang.

 

Lanjut guys, apabila Anda mempunyai mood, kantor Anda pun ternyata mempunyai mood, lalu apakah kota dan negara Anda juga mempunyai mood? Coba Anda bertanya pada diri Anda sendiri, suasana (mood) apa yang Anda rasakan ketika sampai di stasiun kereta api Tugu di Jogja? Suasana apa yang Anda rasakan ketika Anda tiba di bandara Ngurah Rai di Denpasar? Suasana apa yang Anda rasakan ketika Anda sampai di bandara Changi di Singapura? Suasana apa yang Anda rasakan ketika Anda tiba kembali di Bandara Soeta di Jakarta? Apakah ada perbedaan suasana di antara keempat tempat tersebut? Kalau suasana yang Anda rasakan memang berbeda, maka itu berarti suatu lokasi (termasuk kota dan negara) pun mempunyai mood. Mood apa yang diberikan oleh kota atau negara di atas?.

 

Jawablah. Di antara keempat lokasi itu, di lokasi mana Anda merasakan suasana sangat aman? Jogja, Bali, Singapura, atau Jakarta? Di lokasi mana Anda merasakan suasana sangat kreatif? Jogja, Bali, Singapura, atau Jakarta? Itulah mood kota tersebut. Limbic system Anda bisa menyerap suasana itu, sementara cortex Anda selalu mencari pembenaran logikanya.

 

Termasuk juga tulisan ini guys. Cortex Anda sejak tadi hanya mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng tanda menyetujui atau menolak logika tulisan ini tentang emosi sebagai crouching tiger yang kentara dan mood sebagai hidden dragon yang tidak kentara, sementara limbic system Anda mungkin tidak menyerap apa pun dari tulisan saya ini. Bukankah demikian? Quo vadis cogito ergo sum.

 

Good luck guys!

 

Heliantono, CPA
Creation Board ABC Program
Professionals Learning Center
www. abcprogram.co.id