News

Hidup Mencari Makna

Selamat pagi Guys..

 

Guys… Apakah Anda pernah nonton film Life is Beautiful? … atau nyetel video Schindler’s List? Apabila sudah pernah, bagaimana perasaan Anda setelah menyaksikan film itu?. Nahh sebentar lagi Anda membaca kisah yang mirip dengan cerita di kedua film itu, kisah tentang kekejaman perang, kisah tentang kekejaman tentara NAZI. Beda antara kedua film itu dan kisah ini terletak pada pembahasannya. Kisah ini dibahas dengan sudut pandang lain. Sudut pandang tentang cara pandang seorang dokter psikiatri yang mengamati perilaku para tahanan dalam menghadapi hidup selama di camp konsentrasi.

 

Kisah ini adalah sebuah kisah penuh arti. Sebuah kisah hidup true story tentang seorang dokter yang menemukan banyak temuan kemajuan keilmuannya terutama ketika dipenjara selama 3 tahun di dalam camp konsentrasi NAZI di Auschwitz, Polandia. Setelah perang usai dengan menyerahnya NAZI pada tahun 1945, dokter ini kemudian melanjutkan hidup normalnya dengan menjadi profesor pada dua bidang studi, yaitu Neurologi dan Psikiatri. Kemudian Dia membuka sebuah klinik kesehatan jiwa yang menemukan dan memprakarsai sebuah “cara baru” dalam melakukan terapi kepada pasiennya. ”Cara baru” ini disebut dengan Logotherapy. Logotherapy diambil dari bahasa latin. Logo artinya adalah makna (meaning), therapy adalah perhatian terus menerus. Jadi Logotherapy dapat diartikan sebagai memberikan perhatian terus menerus kepada arti (makna), berfokus kepada arti kehidupan seseorang tentang eksistensinya di dunia, karena semua orang pada dasarnya selalu mencari arti hidupnya. … Dokter ini bernama Viktor E Frankl.

 

Kisah hidup ini dimulai dengan pengalaman Viktor saat berada di camp konsentrasi NAZI. Selama di camp konsentrasi itu, Dia sempat dipindah ke 4 camp berbeda di negara itu. Apabila Anda belum menyaksikan film Schindler’s List mungkin Anda belum dapat membayangan tentang kondisi di camp konsentrasi ini. Sebagai gambarannya perlu saya garis bawahi di sini bahwa dari sekian ribu penghuni camp, tidak sampai 4% yang bisa tetap bertahan untuk hidup. Sebagian besar, 96% lebih, meninggal dengan cara yang berbeda yaitu meninggal di gas chamber (baik anak-anak, wanita, dan manula) atau meninggal karena kedinginan ketika bekerja, atau dihukum, atau meninggal karena sakit.

 

Selama di camp ini, seluruh penghuninya tidak ada yang menggunakan nama asli mereka, mereka dipanggil hanya dengan nomor. Nomor itu ada yang dituliskan di baju mereka, pun ada yang dituliskan (ditatokan) di badan mereka. Nama dokter Viktor selama di camp adalah 119,104.

 

Kisah di camp konsentrasi NAZI

 

Ketika pertama kali dijembloskan ke dalam camp, Viktor diminta untuk menggati pakaian bersihnya dengan pakaian lusuh dan compang-camping milik seseorang yang tidak membutuhkannya lagi karena pemilik pakaian itu telah ”ditransfer” ke gas chamber. Selanjutnya seluruh penghuni camp, termasuk Viktor diminta untuk bekerja membuat jalur rel kereta api atau membuat terowongan, atau membuat gorong-gorong. Viktor sendiri selama di camp tidak ditempatkan pada bagian medis. Sebagian besar waktunya habis dipakai untuk bekerja membuat jalur kereta api.

 

Tempat tidur mereka, para penghuni camp, adalah tempat tidur bertingkat yang digunakan tidur oleh 9 orang untuk setiap tingkatnya. Dua lembar selimut digunakan untuk 9 orang itu. Sangat padat, dan hanya bisa tidur dengan cara memiringkan badan dan saling menumpuk. Di satu sisi ini adalah keuntungan bagi mereka karena udara yang sangat dingin menjadi tidak terlalu dingin. Walaupun ada aturan untuk tidak menggunakan sepatu di atas dipan, tetapi ternyata banyak juga yang menggunakan sepatunya sebagai pengganti bantal, meskipun sepatunya itu masih penuh dengan lumpur setelah bekerja sebelumnya. Anehnya, meskipun dalam keadaan demikian mereka tetap dapat tidur dan beristirahat selama beberapa jam setelah seharian bekerja fisik dan penuh tekanan serta kedinginan. Dengkuran keras dari teman di sampingnya pun tetap tidak dapat mengganggu tidur seseorang.

 

Jatah makanan untuk masing-masing tahanan adalah sepotong roti untuk dimakan selama empat hari. Perebutan roti ini sama sengitnya dengan perebutan untuk mendapatkan hidup itu sendiri. Selain roti, mereka juga mendapat jatah satu lembar pakaian untuk dipakai selama 6 bulan, sedemikian lamanya hingga baju itu tidak nampak lagi terlihat sebagai baju.

 

Mereka berhari-hari tidak mandi atau pun mencuci tangan. Kekurangan air di camp ini penyebab utamanya adalah banyaknya pipa air yang membeku karena suhu yang di bawah nol celcius. Meskipun demikian tanah dan kotoran yang menempel di tangan tidak membuat tangan mereka menjadi bernanah, kecuali pada kasus terjadinya frostbite. Selama berhari-hari pun mereka tidak membersihkan gigi. Mereka juga mengalami keadaan kekurangan vitamin. Meskipun demikian anehnya mereka mengaku merasa memiliki gigi yang lebih sehat dari pada ketika sebelum berada di camp.

 

Dengan mengamati semua hal ini, Viktor yakin bahwa setiap orang sudah dibekali dengan kemampuan untuk bisa beradaptasi dalam segala kondisi, entah bagaimana caranya. Viktor juga sudah tidak percaya lagi bahwa setiap orang perlu tidur sekian jam setiap harinya, atau setiap orang perlu makan untuk hidup (sampai batas tertentu).

 

Hari ini mereka bekerja membuat terowongan, besoknya membuat selokan, lusanya memasang bantalan rel kereta api, dan seterusnya. Hari ini dihukum dengan berbaris di salju, besoknya dihukum dengan pemukulan, lusanya dihukum dengan diletakkan di dalam ruangan yang sebenarnya untuk 200 orang tapi dipadatkan untuk 500 orang, dan seterusnya. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang akan mereka hadapi di kemudian hari.

 

Pesan dari para senior penghuni camp supaya bisa tetap hidup dan supaya tidak dikirim ke gas chamber dan ruang kremasi adalah ”bercukurlah setiap hari, supaya terlihat lebih muda meskipun hanya dengan menggunakan sepotong kaca, kalaupun nantinya terjadi luka-luka di wajah Anda, hal ini akan membuat Anda tampak lebih kekar. Terlihatlah selalu fit dalam berjalan dan bekerja, meskipun sedang sakit atau sedang terluka. Apabila terlihat pincang atau lemas, maka tentara SS akan segera mengirim Anda ke gas chamber”.

 

Yang selalu mereka rasakan adalah kesakitan, kelaparan, dan kedinginan. Yang selalu mereka rindukan adalah rokok, roti, dan mandi air hangat. Yang selalu mereka rasakan adalah kesakitan, kelaparan, dan kedinginan, … kesakitan, kelaparan, dan kedinginan.

 

Keinginan untuk bunuh diri juga selalu mengiming-imingi setiap penghuni camp. Bunuh diri bisa mereka lakukan dengan cara sederhana, yaitu berlari dan memegang pagar yang dialiri listrik. Biasanya pemegang pagar listrik ini akan mati seketika. Cara ini adalah cara yang paling populer untuk bunuh diri di camp. Semua ini mereka lakukan sebagai akibat dari sangat kecilnya harapan untuk ”hidup normal kembali”, dan kecilnya kemungkinan untuk dapat melarikan diri dari derita penyiksaan tentara SS.

 

Viktor banyak sekali menyaksikan proses kematian seseorang. Kematian karena hukuman tentara SS, atau pun kematian karena sakit. Semua kematian ini disaksikannya tanpa emosi. Bila salah satu penghuni sel mengalami kematian, maka ketika jenazahnya ini masih hangat, teman lainnya segera mengambil warisan pakaiannya atau menukar sepatunya yang sudah rusak dengan sepatu milik orang yang sudah mati, termasuk juga mengambil kentang kotor yang disimpan oleh penghuni yang mati ini.

 

Tiga tahap menuju kematian

 

Selanjutnya selama 3 tahun di dalam camp ini Viktor melakukan pengamatan terhadap kejadian yang sering dilihatnya, termasuk pengalamannya sendiri tentang hal yang didengar dan dirasakan selama menjalani masa sebagai penghuni camp. Menurut pengamatannya, ada tiga tahapan sikap penghuni camp dalam menuju kematian Tahapan ini dapat diketahui dari ciri-ciri sikap yang terlihat pada mereka. Ciri orang yang baru menghuni camp adalah, orang ini mempunyai keinginan untuk tetap hidup yang besar dan tidak takut untuk mati. Orang ini disebut sebagai orang yang memasuki tahap awal.

 

Setelah bisa bertahan selama beberapa hari di tahap awal, maka sebagian besar orang ini akan memasuki tahap kedua mereka, yaitu tahap apatis. Pada tahap ini mereka mengalami sebuah kematian emosi. Ini semua sebagai akibat dari penyiksaan dan penderitaan terus menerus selama di camp. Ciri dari memasuki tahap kedua ini adalah orang tersebut menjadi tidak peduli lagi dan tidak sensitif lagi dengan keadaan sekelilingnya. Termasuk ketika menjalani hukuman pemukulan. Pada masa ini sepertinya tahanan itu sudah masuk ke dalam sebuah dunia lain. Ini adalah cara manusia untuk tetap hidup, yaitu dengan melakukan proteksi dirinya terhadap gangguan dari luar, dia masuk ke dalam dan hanya berfokus kepada survival.

 

Sebagian dari mereka kemudian akan memasuki tahap ketiga, yaitu tahap menyerah. Pada tahap ini mereka tidak lagi berfokus pada kehidupan dan mereka telah kehilangan arti hidup. Apabila mereka telah sampai pada tahap ini maka biasanya mereka tidak mau dibangunkan lagi pada jam 5 pagi untuk bekerja. Walau telah dibangunkan dan mendapat peringatan, mereka tetap tidur, dan menolak untuk bekerja. Selanjutnya dalam waktu tidak lebih dari 48 jam orang seperti ini akan mati dengan disaksikan penghuni camp lainnya.

 

Pada tahap ini mereka bertanya dalam hatinya, apakah saya akan mati sebentar lagi? Atau apakah saya akan bertahan hidup? Kebimbangan ini adalah titik kritis dari kehidupan.

 

Viktor pun mengalami kebimbangan ini dan kemudian memilih untuk tetap hidup. Viktor berfikir ”kalau saya mati, maka seluruh penderitaan yang saya alami selama ini menjadi tidak bermakna. Seluruh kematian yang saya saksikan di sekitar saya juga menjadi tidak berarti”. Itulah alasan kenapa Viktor memilih untuk terus bertahan hidup.

 

Tiga cara menemukan kehidupan

 

Anda dapat menemukan kehidupan/arti kehidupan melalui tiga cara. Cara pertama adalah dengan melakukan (doing) atau membuat (creating) sebuah pekerjaan. Cara kedua adalah dengan merasakan/mengalami (experiencing) sesuatu atau memasuki (entering) dunia orang lain. Cara ketiga adalah dengan memiliki perilaku tertentu dengan memasuki penderitaan (suffering) yang tidak terelakkan.

 

Ketika Anda melakukan sebuah pekerjaan atau membuat sebuah pekerjaan, tentunya Anda merasakan sebuah arti dari melakukan pekerjaan itu. Misalnya Anda bekerja, kemudian memperoleh penghasilan, kemudian dikonsumsi oleh Anda dan keluarga. Anda menjadi memiliki perasaan berarti dalam hidup ini karena Anda telah memproduksi, menghasilkan, atau menginovasikan sesuatu yang tidak diproduksi atau dihasilkan oleh orang lain.

 

Cara kedua untuk menemukan arti hidup adalah dengan mengalami/merasakan sesuatu, seperti kebaikan, kebenaran, dan keindahan serta dengan merasakan kebudayaan atau keindahan alam. Selain itu bisa juga dengan cara mengalami/memasuki dunia orang lain tentang keunikannya atau dengan cara mencintainya. Mencintai adalah cara yang paling efektif untuk mengetahui hal yang paling inti dari orang lain. Dengan mencintai, seseorang dapat melihat anugrah paling penting dan terindah dari orang lain. Dia bisa melihat apa yang sangat potensial yang belum diaktualisasikan oleh orang lain itu. Dengan mencintai orang lain, maka Anda dapat mengaktualisakan potensi diri orang lain secara penuh dan hidup Anda menjadi berarti.

 

Cara ketiga untuk menemukan arti hidup adalah dengan mengalami penderitaan. Seseorang dapat menemukan arti hidupnya meskipun dalam keadaan tidak berdaya, ketika menghadapi takdir yang tak dapat ditolak. Oleh karena itu hal yang diperlukan seseorang dalam situasi seperti ini adalah kecakapannya untuk mendemonstrasikan kemampuan uniknya dalam mengubah tragedi menjadi kemenangan. Dengan kata lain cara ketiga ini adalah kemampuan di dalam setiap orang untuk mengubah cara pandangnya dalam melihat hidup.

 

Seorang suami yang ditinggal istrinya mengalami perasaan amat sangat terpukul. Sang suami ini sangat mencintai istrinya, sehingga merasa sangat menderita meskipun istrinya telah meninggal lebih dari dua tahun yang lalu. Sang suami ini kemudian bisa menerima kepergian istrinya, ketika dia telah menemukan arti hidupnya. Arti hidupnya ditemukan dengan cara sederhana, yaitu ketika Logotherapistnya menanyakan sebuah pertanyaan. ”apa yang terjadi apabila Anda lah yang meninggal lebih dulu dan istri Anda yang hidup sendirian, apakah dia juga akan menderita seperti Anda?” Sang suami ini tidak menjawab ketika ditanya demikian, karena tahu dan yakin bahwa istrinya akan jauh lebih menderita daripada dirinya apabila dia hidup sendirian. Sejak saat itu sang suami jadi dapat menerima kepergian istrinya karena sekarang dia sadar bahwa arti hidupnya adalah untuk menggantikan ”penderitaan” istrinya. Daripada istrinya yang menderita, lebih baik dia lah yang menderita. Arti hidupnya saat ini adalah berkorban demi kebahagiaan istrinya.

 

Jerry Long mengalami kelumpuhan pada seluruh badannya. Kelumpuhan ini terjadi karena kecelakaan yang dialaminya ketika berusia 17 tahun. Dia kemudian mengikuti kursus tertentu dan selama kursus itu Dia melakukan diskusi, membaca, dan menulis. Untuk kegiatan menulis Jerry Long menggunakan ujung lidahnya ke keyboard. Jerry Long menulis surat yang menceritakan bahwa dia melihat hidupnya berkelimpahan, penuh arti dan tujuan, ”I broke my neck, but it didn’t break me”. Dia baru menyadari bahwa kelumpuhannya ternyata menambah kemampuannya untuk menolong orang lain. Dia juga menyadari bahwa tanpa ”penderitaan” ini, pertumbuhan yang dialaminya tidak akan sebesar ini.

 

Penelitian yang dilakukan Viktor kepada publik menghasilkan simpulan bahwa 89% orang mengakui membutuhkan ”sesuatu” demi sebuah kehidupan. Penelitian lain, yaitu kepada 7.948 mahasiswa dari 48 universitas menghasilkan simpulan bahwa ”uang yang banyak” adalah hal terpenting dalam hidup (16%), dan 78 % menjawab ”menemukan tujuan dan arti hidup” adalah tujuan terpenting dalam hidup. Studi selanjutnya dilakukan oleh Annemarie. Hasil penelitian Anne menyatakan bahwa 90% pecandu alkohol mempunyai perasaan tidak berarti, dan 100% (seluruh) pecandu narkoba menyatakan bahwa semua hal di hidup ini tampak tidak berarti.

 

Dengan contoh di atas diketahui bahwa setiap orang pun siap untuk ”menderita” selama penderitaannya mempunyai arti. Meskipun demikian perlu diketahui juga bahwa ”penderitaan” bukanlah keharusan untuk mendapatkan arti hidup. Hal yang hendak diungkapkan di sini adalah bahwa meski dalam keadaan ”menderita” pun seseorang dapat menemukan arti hidupnya. Apabila ”penderitaan” itu bisa dihindari, tentu saja langkah yang paling tepat adalah menghilangkan penyebabnya. Keadaan mungkin tidak dapat diubah, tetapi cara pandang Anda dapat Anda ubah bila Anda mau melakukannya.

 

Kebahagiaan bukanlah tujuan, karena kebahagiaan adalah hasil dari sebuah tindakan. Kesenangan atau kesedihan adalah hasil atau efek dari ”sesuatu”, dan bukan tujuan. Seseorang perlu mengetahui alasan kenapa dirinya perlu menjadi bahagia. Ketika alasan ini telah ditemukan, maka orang ini menjadi bahagia dengan sendirinya. Oleh karena itu fokuslah kepada ”sesuatu” itu, bukan kepada hasilnya, karena keinginan dan perhatian yang berlebihan untuk menjadi bahagia justru akan menjauhkan rasa bahagia itu dari dirinya. Jadi, fokuskanlah perhatian Anda kepada obyek yang sebenarnya.

 

Apabila seseorang merasa sedih, maka fokus yang berlebihan terhadap perasaan sedih itu akan mengakibatkan bertambahnya perasaan sedih itu sendiri dengan kesedihan lainnya. Secara tidak sadar dia sendiri telah menambahkan rasa sedihnya dengan ”perasaan yang sedih karena mempunyai perasaan yang sedih”. Demikian seterusnya perasaan sedih itu menumpuk dan menggunung, sampai akhirnya dia merasa menjadi orang yang paling sedih di dunia ini.

 

Apabila Anda sedang mengalami kesulitan menyelesaikan pekerjaan di kantor, atau menghadapi kerumitan mencari data untuk thesis atau disertasi Anda, atau sedang mengalami kesulitan cash flow untuk bisnis atau bahkan untuk hidup sehari-hari Anda, atau merasakan gangguan pada hubungan keluarga, pun mengalami masalah pada area lainnya maka pesannya di sini adalah fokuslah pada proses untuk mengatasi hal itu, dan bukan pada hasil dari prosesnya.

 

Guys, … saya tahu, you are a free man, … and a free man you are, tapi Guys arti bebas di sini bukanlah berarti Anda terbebas dari kondisi tertentu, tetapi Anda bebas untuk bersikap ketika Anda menghadapi kondisi tertentu itu. Ketika Anda sudah menemukan makna hidup, maka Anda bukan hanya sudah memperoleh kebahagiaan, bahkan Anda juga sudah memiliki kemampuan untuk mengatasi hidup dalam kondisi yang terbatas. … He who has the why to live, can bear with almost any how (Nietzche)

 

Heliantono
www.abcprogram.co.id